Skip to main content

LAPORAN PENDAHULUAN ATRIAL FIBRILASI (AF)

LAPORAN PENDAHULUAN

ATRIAL FIBRILASI

 

A.    KONSEP PENYAKIT

1.      Definisi

Atrial fibrilasi (AF) adalah suatu gangguan pada jantung yang paling umum (ritme jantung abnormal) yang ditandai dengan ketidakteraturan irama denyut jantung dan peningkatan frekuensi denyut jantung, yaitu sebesar 150-300 x/menit. 

Pada dasarnya atrial fibrilasi merupakan suatu takikardi supraventrikuler dengan aktivasi atrial yang tidak terkoordinasi sehingga terjadi gangguan fungsi mekanik atrium. Keadaan ini menyebabkan tidak efektifnya proses mekanik atau pompa darah jantung. 

Dari gambaran elektrokardiogram AF dapat dikenali dengan absennya gelombang P, yang diganti oleh fibrilasi atau oskilasi antara 200-300 permenit dengan berbagai bentuk, ukuran, jarak dan waktu timbulnya yang dihubungkan dengan respon ventrikel yang cepat dan tak teratur bila konduksi AV masih utuh. Irama semacam ini sering disebut sebagai gelombang “f”.

 

2.      Etiologi

Atrial fibrilasi (AF) biasanya menyebabkan ventrikel berkontraksi lebih cepat dari biasanya. Ketika ini terjadi, ventrikel tidak memiliki cukup waktu untuk mengisi sepenuhnya dengan darah untuk memompa ke paru-paru dan tubuh. Etiologi yang terkait dengan AF terbagi menjadi beberapa faktor-faktor, diantaranya adalah:

a.       Peningkatan tekanan/resistensi atrium (Penyakit katup jantung, kelainan

pengisian dan pengosongan ruang atrium, hipertrofi jantung, kardiomiopati dan hipertensi pulmo (chronic obstructive pulmonary disease dan cor pulmonal chronic), serta tumor intracardiac.

b.      Proses infiltratif dan inflamasi (pericarditis/miocarditis, amiloidosis dan sarcoidosis dan faktor peningkatan usia)

c.       Proses infeksi (demam dan segala macam infeksi)

d.      Kelainan Endokrin (hipertiroid, feokromositoma)

e.       Neurogenik (stroke dan perdarahan subarachnoid)

f.        Iskemik Atrium (infark myocardial)

g.      Obat-obatan (alcohol dan kafein)

h.      Keturunan/genetic

 

3.      Manifestasi Klinis

AF dapat simptomatik dapat pula asimptomatik. Gejala-gejala AF sangat bervariasi tergantung dari kecepatan laju irama ventrikel, lamanya AF penyakit yang mendasarinya. Fibrilasi atrium (AF) biasanya menyebabkan ventrikel berkontraksi lebih cepat dari biasanya. 

Ketika ini terjadi, ventrikel tidak memiliki cukup waktu untuk mengisi sepenuhnya dengan darah untuk memompa ke paru-paru dan tubuh. Atrial fibrilasi sering tanpa disertai gejala, tapi kebanyakan penderita mengalami palpitasi (perasaan yang kuat dari denyut jantung yang cepat atau "berdebar" dalam dada), nyeri dada terutama saat beraktivitas, pusing atau pingsan, sesak napas, cepat lelah, laju denyut jantung meningkat, intoleransi terhadap olahraga, sinkop atau gejala tromboemboli, atau dapat disertai gejala-gejala gagal jantung (seperti rasa lemah, sakit kepala berat, dan sesak nafas), terutama jika denyut ventrikel yang sangat cepat (sering 140-160 denyutan/menit). 

Pasien dapat juga disertai tanda dan gejala stroke akut atau kerusakan organ tubuh lainnya yang berkaitan dengan emboli systemik (1,6). AF dapat mencetuskan gejala iskemik pada AF dengan dasar penyakit jantung koroner. Fungsi kontraksi atrial yang sangat berkurang pada AF akan menurunkan curah jantung dan dapat menyebabkan terjadi gagal jantung kongestif pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri.

 

4.      Komplikasi

Dampak penyakit ini, selain berdebar-debar dan mudah sesak bila naik tangga atau berjalan cepat, juga dapat menyebabkan emboli, bekuan darah yang lepas, yang bisa menyumbat pembuluh darah di otak, menyebabkan stroke atau bekuan darah di bagian tubuh yang lain. 

Kelainan irama jantung (disritmia) jenis atrial fibrilasi seringkali menimbulkan masalah tambahan bagi yang mengidapnya, yaitu serangan gangguan sirkulasi otak (stroke). Ini terjadi karena atrium jantung yang berkontraksi tidak teratur menyebabkan banyak darah yang tertinggal dalam atrium akibat tak bisa masuk ke dalam ventrikel jantung dengan lancar. Hal ini memudahkan timbulnya gumpalan atau bekuan darah (trombi) akibat stagnasi dan turbulensi darah yang terjadi. Atrium dapat berdenyut lebih dari 300 kali per menit padahal biasanya tak lebih dari 100. 

Makin tinggi frekuensi denyut dan makin besar volume atrium, makin besar peluang terbentuknya gumpalan darah. Sebagian dari gumpalan inilah yang seringkali melanjutkan perjalanannya memasuki sirkulasi otak dan sewaktu-waktu menyumbat sehingga terjadi stroke. 

Pada penyakit katup jantung, terutama bila katup yang menghubungkan antara atrium dan ventrikel tak dapat membuka dengan sempurna, maka volume atrium akan bertambah, dindingnya akan membesar dan memudahkan timbulnya rangsang yang tidak teratur. Sekitar 20 persen kematian penderita katup jantung seperti ini disebabkan oleh sumbatan gumpalan darah dalam sirkulasi otak. 

Fibrilasi atrium (kontraksi otot atrium yang tidak terorganisasi dan tidak terkoordinasi) biasanya berhubungan dengan penyakit jantung aterosklerotik, penyakit katup jantung, gagal jantung kongestif, tirotoksikosis, cor pulmonale, atau penyakit jantung kongenital.

 

5.      Patofisiologi

Mekanisme AF terdiri dari 2 proses, yaitu proses aktivasi lokal dan multiple wavelet reentry. Proses aktivasi lokal bisa melibatkan proses depolarisasi tunggal atau depolarisasi berulang. Pada proses aktivasi lokal, fokus ektopik yang dominan adalah berasal dari vena pulmonalis superior. Selain itu, fokus ektopik bisa juga berasal dari atrium kanan, vena cava superior dan sinus coronarius. 

Fokus ektopik ini menimbulkan sinyal elektrik yang mempengaruhi potensial aksi pada atrium dan menggangu potensial aksi yang dicetuskan oleh nodus SA. Sedangkan multiple wavelet reentry, merupakan proses potensial aksi yang berulang dan melibatkan sirkuit/jalur depolarisasi. 

Mekanisme multiple wavelet reentry tidak tergantung pada adanya fokus ektopik seperti pada proses aktivasi lokal,  tetapi lebih tergantung pada sedikit banyaknya sinyal elektrik yang mempengaruhi depolarisasi. Pada multiple wavelet reentry, sedikit banyaknya sinyal elektrik dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu periode refractory, besarnya ruang atrium dan kecepatan konduksi. Hal ini bisa dianalogikan, bahwa pada pembesaran atrium biasanya akan disertai dengan pemendekan periode refractory dan penurunan kecepatan konduksi. Ketiga faktor tersebutlah yang akan meningkatkan sinyal elektrik dan menimbulkan peningkatan depolarisasi serta mencetuskan terjadinya AF. 

Aktivasi fokal fokus diawali biasanya dari daerah vena pulmonalis timbulnya gelombang yang menetap dari Multiple wavelet reentry depolarisasi atrial atau wavelets yang dipicu oleh depolarisasi atrial premature atau aktivitas aritmogenik dari fokus yang tercetus secara cepat. Mekanisme fibrilasi atrium identik dengan mekanisme fibrilasi ventrikel kecuali bila prosesnya ternyata hanya di massa otot atrium dan bukan di massa otot ventrikel. 

Penyebab yang sering menimbulkan fibrilasi atrium adalah pembesaran atrium akibat lesi katup jantung yang mencegah atrium mengosongkan isinya secara adekuat ke dalam ventrikel, atau akibat kegagalan ventrikel dengan pembendungan darah yang banyak di dalam atrium. Dinding atrium yang berdilatasi akan menyediakan kondisi yang tepat untuk sebuah jalur konduksi yang panjang demikian juga konduksi lambat, yang keduanya merupakan faktor predisposisi bagi fibrilasi atrium. Fibrilasi atrium dapat juga disebabkan oleh gangguan katup jantung pada demam reumatik, atau gangguan aliran darah seperti yang terjadi pada penderita aterosklerosis

Pada AF aktivitas sitolik pada atrium kiri tidak teratur, terjadi penurunan atrial flow velocities yang menyebabkan statis pada atrium kiri dan memudahkan terbentuknya trombus. Pada pemeriksaan TEE, trombus pada atrium kiri lebih banyak dijumpai pada pasien AF dengan stroke emboli dibandingkan dengan AF tanpa stroke emboli. 2/3 sampai . stroke iskemik yang terjadi pada pasien dengan AF non valvular karena stroke emboli. Beberapa penelitian menghubungkan AF dengan gangguan hemostasis dan thrombosis. Kelainan tersebut mungkin akibat dari statis atrial tetapi mungkin juga sebagai kofaktor terjadinya tromboemboli pada AF.

 

 

PATHWAY (Download disini)

 

6.      Penatalaksanaan Medis

Sasaran utama pada penatalaksanaan AF adalah mengontrol ketidakteraturan

irama jantung, menurunkan peningkatan denyut jantung dan menghindari/mencegah adanya komplikasi tromboembolisme. Kardioversi merupakan salah satu penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk AF. Menurut pengertiannya, kardioversi sendiri adalah suatu tata laksana yang berfungsi untuk mengontrol ketidakteraturan irama dan menurunkan denyut jantung. Pada dasarnya kardioversi dibagi menjadi 2, yaitu pengobatan farmakologi (Pharmacological Cardioversion) dan pengobatan elektrik (Electrical Cardioversion).

a.       Mencegah pembekuan darah (tromboembolisme)

Pencegahan pembekuan darah merupakan pengobatan untuk mencegah adanya komplikasi dari AF. Pengobatan yang digunakan adalah jenis antikoagulan atau antitrombosis, hal ini dikarenakan  obat ini berfungsi mengurangi resiko dari terbentuknya trombus dalam pembuluh darah serta cabang-cabang vaskularisasi. Pengobatan yang sering dipakai untuk mencegah pembekuan darah terdiri dari berbagai macam, diantaranya adalah:

Ø  Warfarin

Warfarin termasuk obat golongan antikoagulan yang berfungsi dalam proses pembentukan sumbatan fibrin untuk mengurangi atau mencegah koagulasi. Warfarin diberikan secara oral dan sangat cepat diserap hingga mencapai puncak konsentrasi plasma dalam waktu } 1 jam dengan bioavailabilitas 100%. Warfarin di metabolisme dengan cara oksidasi (bentuk L) dan reduksi (bentuk D), yang kemudian diikuti oleh konjugasi glukoronidasi dengan lama kerja } 40 jam.

 

 

Ø  Aspirin

Aspirin secara irreversible menonaktifkan siklo-oksigenase dari trombosit (COX2) dengan cara asetilasi dari asam amino serin terminal. Efek dari COX2 ini adalah menghambat produksi endoperoksida dan tromboksan (TXA2) di dalam trombosit. Hal inilah yang menyebabkan tidak terbentuknya agregasi dari trombosit. Tetapi, penggunaan aspirin dalam waktu lama dapat menyebabkan pengurangan tingkat sirkulasi dari faktor-faktor pembekuan darah, terutama faktor II, VII, IX dan X.

b.      Mengurangi denyut jantung

Terdapat 3 jenis obat yang dapat digunakan untuk menurunkan peningkatan denyut jantung, yaitu obat digitalis, β-blocker dan antagonis kalsium. Obat-obat tersebut bisa digunakan secara individual ataupun kombinasi.

Ø  Digitalis

Obat ini digunakan untuk meningkatkan kontraktilitas jantung dan menurunkan denyut jantung. Hal ini membuat kinerja jantung menjadi lebih efisien. Disamping itu, digitalis juga memperlambat sinyal elektrik yang abnormal dari atrium ke ventrikel. Hal ini mengakibatkan peningkatan pengisian ventrikel dari kontraksi atrium yang abnormal.

Ø  β-blocker

Obat β-blocker merupakan obat yang menghambat efek sistem saraf simpatis. Saraf simpatis pada jantung bekerja untuk meningkatkan denyut jantung dan kontraktilitas jantung. Efek ini akan berakibat dalam efisiensi kinerja jantung.

Ø  Antagonis Kalsium

Obat antagonis kalsium menyebabkan penurunan kontraktilitas jantung akibat dihambatnya ion Ca2+ dari ekstraseluler ke dalam intraseluler melewati Ca2+ channel yang terdapat pada membran sel.

c.       Mengembalikan irama jantung

Kardioversi merupakan salah satu penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk menteraturkan irama jantung. Menurut pengertiannya, kardioversi sendiri adalah suatu tata laksana yang berfungsi untuk mengontrol ketidakteraturan irama dan menurunkan denyut jantung. Pada dasarnya kardioversi dibagi menjadi 2, yaitu pengobatan farmakologi (Pharmacological Cardioversion) dan pengobatan elektrik (Electrical Cardioversion).

1.      Pharmacological Cardioversion (Anti-aritmia)

a)      Amiodarone

b)      Dofetilide

c)      Flecainide

d)      Ibutilide

e)      Propafenon

f)       Quinidine

2.      Electrical Cardioversion

Suatu teknik memberikan arus listrik ke jantung melalui dua pelat logam (bantalan) ditempatkan pada dada. Fungsi dari terapi listrik ini adalah mengembalikan irama jantung kembali normal atau sesuai dengan NSR (nodus sinus rhythm). Pasien AF hemodinamik yang tidak stabil akibat laju ventrikel yang cepat disertai tanda iskemia, hipotensi, sinkop peru segera dilakukan kardioversi elektrik. Kardioversi elektrik dimulai dengan 200 joule. Bila tidak berhasil dapat dinaikkan menjadi 300 joule. Pasien dipuasakan dan dilakukan anestesi dengan obat anestesi kerja pendek.

 

 

d.      Operatif

Ø  Catheter ablation

Prosedur ini menggunakan teknik pembedahan dengan membuat sayatan pada daerah paha. Kemudian dimasukkan kateter kedalam pembuluh darah utama hingga masuk kedalam jantung. Pada bagian ujung kateter terdapat elektroda yang berfungsi menghancurkan fokus ektopik yang bertanggung jawab terhadap terjadinya AF.

Ø  Maze operation

Prosedur maze operation hampir sama dengan catheter ablation, tetapi pada maze operation, akan menghasilkan suatu “labirin” yang berfungsi untuk membantu menormalitaskan system konduksi sinus SA.

Ø  Artificial pacemaker

Artificial pacemaker merupakan alat pacu jantung yang ditempatkan di jantung, yang berfungsi mengontrol irama dan denyut jantung.

 

A.      ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian

a.       Pengkajian Primer

1)      Airway

Hal pertama yang dinilai adalah kelancaran airway, meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan sumbatan atau penumpukan sekret. Adakah suara wheezing atau krekles.

2)      Breathing

Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernafas mutlak untuk pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh. Ventilasi yang baik meliputi: fungsi yang baik dari paru, dinding dada dan diagfragma dan perlu diperhatikan; sesak dengan aktifitas ringan atau pada saat istirahat, RR lebih dari 24 x/menit, irama ireguler dangkal, adakah ronchi, krekles, ekspansi dada tidak penuh, apakah menggunakan otot bantu nafas

3)      Circulation

Observasi mengenai keadaan hemodinamik yaitu; kesadaran pasien, gelisah, akral dingin, warna kulit pucat, sianosis, adakah edema, TD meningkat atau menurun, nadi lemah atau tidak teratur, takikardi, dan apakah output urine menurun.

4)      Disability

Penilaian neurologis secara cepat  yaitu tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil.

5)      Exposure 

Dilakukan pemeriksaan fisik head to toe untuk pemeriksaan lebih jelas, apakah ada nyeri dada spontan dan menjalar.

b.      Pengkajian sekunder

1)      Full Set Of Vital Sign

·      Tekanan darah bisa normal atau naik turun (perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri)

·      Nadi dapat normal atau penuh atau tidak kuat atau lemah atau kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat, tidak teratur (disritmia).

·       RR lebih dari 20 x/menit

·       Suhu hipotermi atau normal

2)      Give Comfort Measure

·         Pemakaian otot pernafasan tambahan

·         Nyeri dada

·         Peningkatan frekuensi pernafasan, nafas sesak, bunyi nafas (krekles, mengi) sputum

·         Pelebaran batas jantung

·         Bunyi jantung ekstra; S3 atau S4 mungkin menunjukan gagal jantung atau penurunan kontraktilitas atau komplain ventrikel

3)      History and Head to Toe

a)      Hystory

·         S : keluhan nyeri dada

·         A : obat-obat apa ada alergi

·         M : makan-makanan selama ini yang dikomsumsi

·         P : adakah penyakit penyerta seperti DM, hypertensi

·         L : makanan yang terakhir dicerna

·         E : kapan terakhir masuk atau dirawat di RS

b)      Head to Toe

·         Leher : apakah ada peningkata vena jugularis.

·         Dada : disritmia dapat menunjukan tidak mencakupinya oksigen didalam miocard, bunyi jantung S3 dapat menjadi tanda dini menjadi ancaman gagal jantung

·         Abdoment : kaji motilitas usus, trombosis arteri, mesentrika merupakan potensial komplikasi yang fatal

·         Ekstremitas : periksa adanya edema pada ekstremitas bawah dan refek untuk mengetahui kelemahan pada ekstremitas.

 

 

c.       Pengkajian Fisik

1.      Aktivitas dan istirahat          :

Massa otot menurun, terjadi respon fisiologis terhadap aktivitas seperti perubahan pada tekanan darah, frekuensi denyut jantung, dan pernafasan.

2.      Sirkulasi     

Takikardi, perubahan tekanan darah postural, penurunan volume nadi perifer, pucat/sianosis, kapillary refill time meningkat.

3.      Integritas ego           

Perilaku menarik diri, mengingkari, depresi, ekspresi takut, perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, kontak mata kurang, gagal menepati janji atau banyak janji.

4.      Eliminasi       

Diare intermitten, terus menerus dengan/tanpa nyeri tekan abdomen, lesi/abses rektal/perianal, feses encer dan/tanpa disertai mukus atau darah, diare pekat, perubahan jumlah, warna, dan karakteristik urine.

5.      Makanan/cairan      

Adanya bising usus hiperaktif; penurunan berat badan: parawakan kurus, menurunnya lemak subkutan/massa otot; turgor kulit buruk; lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih dan perubahan warna; kurangnya kebersihan gigi, adanya gigi yang tanggal; edema.

6.      Higiene         

Penampilan tidak rapi, kekurangan dalam aktivitas perawatan diri.

7.      Neurosensori

Perubahan status mental dengan rentang antara kacau mental sampai dimensia, lupa, konsentrasi buruk, kesadaran menurun, apatis, retardasi psikomotor/respon melambat. Ide paranoid, ansietas berkembang bebas, harapan yang tidak realistis. Timbul refleks tidak normal, menurunnya kekuatan otot, gaya berjalan ataksia. Tremor pada motorik kasar/halus, menurunnya motorik fokalis, hemiparase, kejang, Hemoragi retina dan eksudat (renitis CMV).

8.      Nyeri/kenyamanan 

Pembengkakan sendi, nyeri tekan, penurunan rentang gerak, perubahan gaya berjalan/pincang, gerak otot melindungi yang sakit.

9.      Pernapasan             

Takipnea, distress pernafasan, perubahan bunyi nafas/bunyi nafas adventisius, batuk (mulai sedang sampai parah) produktif/nonproduktif, sputum kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum).

10.  Keamanan   

Perubahan integritas kulit : terpotong, ruam, mis. Ekzema, eksantem, psoriasis, perubahan warna, ukuran/warna mola, mudah terjadi memar yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Rektum luka,  luka-luka perianal atau abses. Timbulnya nodul-nodul, pelebaran kelenjar limfe pada dua/lebih area tubuh (leher, ketiak, paha) Penurunan kekuatan umum, tekanan otot, perubahan pada gaya berjalan.

11.  Genitalia  

Herpes, kutil atau rabas pada kulit genitalia

12.  Interaksi sosial

Perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat, aktivitas yang tak terorganisasi, perobahan penyusunan tujuan.

 

 

 

 

 

2.      Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan atrial fibrilasi adalah:

a.       Penurunan curah jantung b.d perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan inotropik, perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik, perubahan structural.

b.      Nyeri akut b.d proses penyakit

c.       Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum, tirah baring atau imobilisasi. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan alveolar-kapiler.

d.      Kelebihan volume cairan b.d menurunnya laju filtrasi glomerulus (menurunnya curah jantung)/ meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium/air

 

3.      Intervensi Keperawatan

No

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

1

Penurunan curah jantung b.d perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan inotropik, perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik, perubahan structural

NOC :

·         Cardiac Pump effectiveness

·         Circulation Status

·         Vital Sign Status

Kriteria Hasil:

v  Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi, respirasi)

v  Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan

v  Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites

v  Tidak ada penurunan kesadaran

NIC :

Cardiac Care

v  Evaluasi adanya nyeri dada

( intensitas,lokasi, durasi)

v  Catat adanya disritmia jantung

v  Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput

v  Monitor status kardiovaskuler

v  Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung

v  Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi

v  Monitor balance cairan

v  Monitor adanya perubahan tekanan darah

v  Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmia

v  Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan

v  Monitor toleransi aktivitas pasien

v  Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu

v  Anjurkan untuk menurunkan stress

 

Vital Sign Monitoring

§  Monitor TD, nadi, suhu, dan RR

§  Catat adanya fluktuasi tekanan darah

§  Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri

§  Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan

§  Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas

§  Monitor kualitas dari nadi

§  Monitor adanya pulsus paradoksus

§  Monitor adanya pulsus alterans

§  Monitor jumlah dan irama jantung

§  Monitor bunyi jantung

§  Monitor frekuensi dan irama pernapasan

§  Monitor suara paru

§  Monitor pola pernapasan abnormal

§  Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit

§  Monitor sianosis perifer

§  Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)

§  Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

 

2

Nyeri akut b.d proses penyakit

NOC :

PAIN CONTROL

§  Mengenali faktor penyebab

§  Mengenali lamanya (onset) nyeri

§  Menggunakan metode non analgetik untuk mengurangi nyeri

§  Menggunakan analgetik sesuai dengan kebutuhan

 

PAIN LEVEL :

Setelah dilakukan intervensi selama…………… pasien akan menunjukan tingkat nyeri berkurang atau hilang

Karakteristik

§  Frekuensi nyeri

§  Ekspresi nyeri pada wajah

§  Posisi tubuh protektif

§  Ketegangan otot

§  Perubahan pada frekuensi pernapasan

§  Perubahan tekanan darah

§  Perubahan nadi (heart rate)

PAIN MANAGEMENT

 

·     Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

·     Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

·     Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri(harus lebih spesifik dalam menggali pengalaman nyeri)

·     Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri

·     Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau

·     Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan

·     Kurangi faktor presipitasi nyeri

·     Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)

·     Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

·     Ajarkan tentang teknik non farmakologi

·     Berikan analgetik sesuai resep

·     Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

·     Tingkatkan istirahat

·     Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

3

Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum, tirah baring atau imobilisasi. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan alveolar-kapiler

NOC :

§  Energy conservation

Kriteria Hasil :

-          Istirahat dan aktivitas seimbang

-          Tidur siang

-          Mengetahui keterbatasan energinya

-          Mengubah gaya hidup sesuai tingkat energy

-          Memelihara nutrisi yang adekuat

-          Persediaan energy cukup untuk beraktivitas

-           

§  Activity tolerance

Kriteria Hasil :

-       Saturasi oksigen dalam batas normal/dalam respon aktivitas

-       HR dalam batas normal/dalam respon aktivitas

-       RR dalam batas normal/dalam respon aktivitas

-       Tekanan darah dalam batas normal/dalam respon aktivitas

-       Kecepatan berjalan

-       Jarak berjalan

-       Kekuatan

-       ADL telah dilakukan

NIC :

Activity Therapy

§  Menentukan penyebab intoleransi aktivitas

§  Berikan periode istirahat saat beraktivitas

§  Pantau respon kardipulmonal sebelum dan setelah aktivitas

§  Minimalkan kerja kardiopulmonal

§  Tingkatkan aktivitas secara bertahap

§  Rubah posisi pasien secara perlahan dan monitor gejala intoleransi aktivitas

§  Kolaborasikan dengan terapi fisik untuk peningkatan level aktivitas

§  Monitor dan catat kemampuan untuk mentoleransi aktivitas

§  Monitor intake nutrisi untuk memastikan kecukupan sumber energy

§  Ajarkan pasien tehnik mengontrol pernafasan saat aktivitas

4

Kelebihan volume cairan b.d menurunnya laju filtrasi glomerulus (menurunnya curah jantung)/ meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium/air

Setelah mendapatkan asuhan keperawatan selama……x 24 jam pasien mencapai keseimbangan asam basa dan keseimbangan cairan.

NOC :

FLUID BALANCE

-       Tekanan darah dalam batas normal

-       Rata-rata tekanan arteri dalam batas normal

-       Tekanan vena central dalam batas normal

-       Tekanan paru normal

-       Nadi periver teraba

-       Tidak ada hipotensi ortostatik

-       Keseimbangan intake dan output dalam 24 jam tidak ada edema perifer

-       Tidak ada sura nafas tambahan

-       Berat badan stabil

-       Tidak ada asites

-       Tidak ada distensi vena jugularis

-       Kelembaban kulit normal

-       Membrane mukosa lembab

-       Elektrolit serum dalam batas normal

-       Nilai hematokrit dalam batas normal

-       Berajt jenis urin dalam batas normal

 

ELECTROLIT AND ACID BASE BALANCE

-       Frekwensi denyut Jantung, Irama denyut jantung ,Frekuensi pernapasan dalam batas yang diharapkan

-       Cl, Ca, Mg, Creatinin serum, Bikarbonat serum, BUN, PH urine dalam batas normal

-       Ketegangan otot tidak ada

-       Iritabilitas neuromuscular

-       Tidak terdapat rasageli pada ekstrimitas

NIC :

FLUID MANAGEMENT

·         Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

·         Pasang urin kateter jika diperlukan

·         Timbang popok/pembalut jika diperlukan

·         Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik) jika diperlukan

·         Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN ,  Hmt , osmolalitas urin  )

·         Monitor status hemodinamik termasuk CVP, MAP, PAP, dan PCWP

·         Monitor vital sign

·         Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan (cracles, CVP , edema, distensi vena leher, asites)

·         Kaji lokasi dan luas edema

·         Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian

·         Lakukan terapi IV

·         Monitor status nutrisi

·         Berikan cairan

·         Berikan diuretik sesuai interuksi

·         Dorong masukan oral

·         Berikan penggantian nasogastrik sesuai output

·         Dorong keluarga untuk membantu pasien makan

·         Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatrermi dilusi dengan serum Na < 130 mEq/l

·         Monitor respon pasien terhadap terapi elektrolit

·         Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk

·         Atur kemungkinan transfusi

·         Persiapan untuk transfusi

·         Memberikan transfusi

FLUID MONITORING

·         Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminaSi

·         Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidak seimbangan cairan (Hipertermia, terapi diuretik, kelainan renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi hati, dll )

·         Monitor berat badan

·         Monitor serum dan elektrolit urine

·         Monitor serum albumin dan protein total

·         Monitor BP, HR, dan RR

·         Monitor tekanan darah orthostatik dan perubahan irama jantung

·         Monitor parameter hemodinamik infasif

·         Catat secara akurat intake dan output

·         Monitor membran mukosa dan turgor kulit serta rasa haus

·         Catat dan monitor warna, jumlah, karakteristik urine

·         Monitor adanya distensi leher, rinchi, eodem perifer dan penambahan BB

·         Monitor tanda dan gejala dari odema

·         Beri cairan sesuai keperluan

·         Beri obat yang dapat meningkatkan out put urine

·         Lakukan hemodialisis bila perlu dan catat respon pasien

 

 

 

 

4.      Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. Evaluasi pada pasien AF adalah :

a.         Peningkatan curah jantung

b.        Nyeri berkurang atau hilang

c.         Klien dapat mempertahankan / meningkatkan ambulasi

d.        Klien dapat mencapai Keseimbangan cairan dan keseimbangan asam dan elektrolit

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Docterman et all. (2016). Nursing Invention Classifications (NIC). Edisi keenam. Elsevier Singapore Pte Ltd Academic.

Firdaus I. (2007). Fibrilasi Atrium Pada Penyakit Hipertiroidisme. Patogenesis dan Tatalaksana. Jurnal Kardiologi Indonesia; September  Vol. 28, No. 5.

Harrison. (2008). Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Volume 3 Edisi 13. Jakarta: EGC.

Maas et all. (2016). Nursing Out Comes (NOC). Edisi Kelima. Elsevier Singapore Pte Ltd Academic.

Mappahya AA. (2009). Atrium Fibrilation Theraphy To Prevent Stroke: A Review. The Indonesian Journal of Medical Science. Volume 1 No.8. p. 477-489.

Nanda International (2012). Diagnosis Keperawatan: definisi & Klasifikasi. 2015-2017. Edisi 10. Jakarta : EGC

Smeltzer, SC. (2008). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 Volume 2. Jakarta: EGC.  

Sudoyo AW, dkk . (2007). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III Edisi IV. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,

Nasution SA, Ismail D. (2009). Fibrilasi Atrial. Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Edisi 3. Jakarta: EGC.

 

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Laporan EVIDENCE BASED PRACTICE (EBP) Kep. Gerontik

LAPORAN EVIDENCE BASED PRACTICE (EBP) KEPERAWATAN GERONTIK   EFEKTIVITAS TEHNIK RELAKSASI BENSON TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH   PADA NY. S DI DESA LEDOK   ARGOMULYO, SALATIGA   Nama Mahasiswa        : xxxx NIM                             :   xxx   1.    Latar Belakang    Lansia merupakan tahap akhir dari siklus hidup manusia, yaitu bagian dari proses kehidupan yang tidak dapat disadari dan akan di alami oleh setiap individu (Azizah, 2011). Proses menua merupakan proses yang berlanjut secara alamiah, dimulai sejak lahir dan pada umumnya dialami pada semua makhluk hidup (Nugroho, 2008). P enyakit degeneratif pada lansia yang disebabkan oleh penurunan fung si adalah diabetes mellitus dan hiper tensi (Subroto, 2006). Penyakit tersebut akan dapat mengganggu...

LAPORAN PENDAHULUAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

KAMU DAPAT DOWNLOAD GRATIS LAPORAN PENDAHULUAN  .DOCX PATHWAY  .DOCX LAPORAN PENDAHULUAN DBD  KONSEP DASAR 1.     Pengertian Demam berdarah adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh Virus Dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti (Suriadi, 2006 : 57). Menurut (Nelson, 2000, Vol 2 : 1134) Demam berdarah adalah suatu penyakit demam berat yang sering mematikan, disebabkan oleh virus, ditandai oleh permeabilitas kapiler, kelainan hemostaksis dan pada kasus berat, sindrom syok kehilangan protein.  Sedangkan menurut (Rasyid, 2012 : 3) Demam berdarah dengue (DBD), adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, dan atau nyeri sendi yang disertai penurunan dari sel darah putih, adanya bercak kemerahan  di kulit, pembesaran kelenjar getah bening, penurunan jumlah trombosit dan kondisi terberat adalah perdarahan dari hampir seluruh ja...

LAPORAN PENDAHULUAN DYSPNEA

  LAPORAN PENDAHULUAN DYSPNEA A.     DEFINISI Dyspnea atau sesak nafas adalah perasaan sulit bernapas yang terjadi ketika melakukan aktivitas fisik. Sesak napas merupakan gejala dari beberapa penyakit dan dapat bersifat akut atau kronis. Sesak napas dikenal juga dengan istilah “Shortness Of Breath”. Dyspnea atau sesak nafas di bedakan menjadi 2 yaitu :                                                                                                        ...